Investigasi Proyek Saluran Air Balapulang: Tanpa Plang Anggaran, Mandor Akui Ketebalan Kurang
Radar-cyber.com , BALAPULANG, TEGAL — Proyek pembangunan saluran air di wilayah Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, menuai sorotan tajam dari warga setempat serta awak media. Pelaksanaan proyek ini dinilai tidak transparan, dikerjakan secara asal-asalan, serta memiliki dimensi fisik yang jauh di bawah ketentuan teknis standar.
Hingga berita ini diturunkan, tidak tampak adanya papan informasi proyek di lokasi kegiatan. Akibatnya, masyarakat kehilangan hak keterbukaan informasi untuk mengetahui identitas perusahaan pelaksana, besaran anggaran, sumber dana, masa waktu pengerjaan, maupun spesifikasi teknis yang wajib dipenuhi.
Temuan Penyimpangan di Lapangan
Berdasarkan pemantauan dan investigasi langsung di lokasi, ditemukan sejumlah indikasi penyimpangan mencolok pada struktur fisik bangunan:
Ketebalan Dinding/Sayap Saluran: Hanya berkisar antara 14 hingga 15 sentimeter, jauh dari standar minimal teknis konstruksi yang lazimnya 20 sentimeter.
Ketebalan Lantai Dasar: Hanya berukuran 10 hingga 12 sentimeter. Temuan ini turut dikuatkan oleh pengakuan mandor proyek saat dikonfirmasi oleh jurnalis di lapangan.
Konfirmasi Lapangan dan Respons Pelaksana
Saat dikonfirmasi terkait spesifikasi teknis tersebut, mandor di lapangan menyatakan bahwa dirinya hanya bekerja berdasarkan gambar kerja yang diberikan oleh pihak pelaksana.
“Saya bekerja hanya sesuai gambar dari pelaksana. Hal lain saya tidak tahu. Kalau mau bertanya, tanyakan langsung kepada pelaksananya, Pak Candra,” ujar sang mandor di lokasi proyek.
Namun, ketika dihubungi melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp, Pak Candra selaku pelaksana proyek justru memberikan respons bernada defensif. Saat ditanya mengenai transparansi dan spesifikasi teknis, ia menjawab dengan ketus:
“Kalau mau tahu, silakan bekerja langsung di proyek saluran itu sendiri.”
Menanggapi jawaban tersebut, awak media menegaskan posisinya secara profesional demi menjaga integritas karya jurnalistik:
“Saya tidak perlu bekerja di sana, Pak. Saya hanya sebatas mengonfirmasi karena butuh keterangan yang berimbang. Jika Bapak merasa keberatan, biarkan saya bekerja sesuai porsi saya — apa yang saya lihat di lapangan, itulah yang akan saya beritakan.”
Desakan Audit dari Masyarakat
Warga setempat menyatakan kekhawatiran mendalam bahwa bangunan saluran air tersebut tidak akan bertahan lama dan berisiko cepat rusak, retak, atau amblas sebelum masa pemanfaatannya habis.
Masyarakat mendesak instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tegal, Inspektorat, serta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera turun tangan melakukan audit dan pemeriksaan menyeluruh di lokasi. Langkah tegas ini dinilai mendesak agar pembangunan diperbaiki sesuai spesifikasi yang benar, sehingga anggaran daerah tidak terbuang sia-sia.
Sesuai dengan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, media tetap membuka ruang hak jawab serta klarifikasi lanjutan bagi pihak pelaksana maupun instansi terkait guna menjaga prinsip pemberitaan yang berimbang dan objektif.
Atmo Tim
